Berita  

Alunan Musik Orkes Bada Isya Ramaikan Acara Buka Puasa Bersama Teknokra

Bandarlampung, NL – Grup musik Orkes Bada Isya yang merupakan bagian dari Unit Kegiatan Mahasiswa Bidang Seni (UKMBS) Unila turut tampil pada acara buka puasa bersama Teknokra. Keenam personil band tersebut membawakan tiga lagu bernuansa islami untuk mengiringi acara yang diadakan di ruang sidang Gerha Mahasiswa Unila pada Minggu (24/4).

Bukber dengan tema “Sucikan Hati, Jalin Silaturahmi” tersebut merupakan yang pertama di masa pandemi. Pasalnya, selama dua tahun belakang, Teknokra tak pernah mengadakan Bukber. Penampilan Orkes Bada Isya pun membuat acara menjadi istimewa.

Ketiga lagu yang dibawakan antara lain berjudul “Man Ana” yang dipopulerkan oleh Sabyan, “Hidup 4” milik Ebit G. Ade dan “Tombo Ati” karya Opik sebagai penutup.

Salah satu vokalis Orkes Bada Isya, Hani Dayanti (Teknologi Hasil Pertanian’19) mengungkapkan bahwa ia senang dengan antusiasme para peserta acara.
“Bukber Teknokra malam ini sangat seru dimana orang-orang nya memiliki antusiasme serta kerja tim juga bagus dan persiapan tim juga sudah matang,” ungkapnya.

Ihwana Haulan (Ilmu Komunikasi’19) selaku Pemimpin Umum Teknokra mengaku bersyukur acara dapat berjalan lancar, ia pun mengungkapkan alasan khusus mengapa Teknokra mengundang Orkes Bada Isya.
“Alasan mengundang Orkes Bada Isya dalam acara bukber Teknokra ini adalah untuk membangun relasi sesama UKM di Unila dan kita branding UKM yang ada di lingkungan Unila,” ungkapnya.

Tak hanya menampilkan Orkes Bada Isya, acara tersebut juga menampilkan musikalisasi puisi oleh magang Teknokra angkatan 71. Selain itu, acara juga diisi ceramah oleh Juwendra Asdiansyah yang merupakan alumni Teknokra.
Agenda ceramah yang disampaikan oleh alumni UKPM Teknokra itu mengusung tema “Tantangan dan Peluang Dakwah di Era Disrupsi Media”. Juwendra selaku pembicara dalam ceramah tersebut mengaitkan antara jurnalistik dan ilmu agama dalam ceramahnya.

Menurutnya, wartawan hanya boleh menulis berita yang benar terjadi atau sesuai fakta.
“Dari sembilan elemen jurnalisme itu yang pertama adalah kebenaran, jadi seorang wartawan hanya menulis yang benar dan wartawan tidak boleh bohong. Elemen berikut dalam mencapai kebenaran itu disebut verifikasi (Disiplin dalam Verifikasi). Verifikasi  dalam Islam disebut juga tabayun,” ujarnya.

Di akhir ceramahnya, ia berharap semua wartawan kampus dapat bekerja dengan benar, baik dan profesional sesuai dengan kode etik jurnalistik serta tidak menyebarkan fitnah.
“Menjadi wartawan kampus bekerjalah dengan benar, bekerjalah dengan baik, bekerjalah dengan profesional , taati kode etik, jangan berbohong , jangan sembarang memilih  narasumber, disiplin dalam verivikasi, dan  jangan menyebarkan fitnah. Janganlah kebencian kamu terhadap suatu kaum membuat mu berlaku tidak batil. Kalau kita disiplin, bapak ibu semua insyaallah kita berada di  trek yang benar untuk menuju Surga Jannatun Naim,” pungkasnya.

(Red/Rilis)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *